Husain masih saja menggenggam
ponsel butut yang telah luntur angka-angka pada keypad-nya, tergerus jari miliknya selama bertahun-tahun, diikat karet
gelang mirip bungkus nasi atau pada rambut wanita tua tak memiliki ikat rambut
sehingga menggunakan karet gelang. Ponsel itu sudah mati total, itu adalah pemberian
orang tua-nya pada masa awal kuliah. Waktu tak dapat ditahan malam kian larut
juga pikirannya membayangkan esok hari kembali memutuskan suatu perkara hukum
karena profesinya sebagai hakim, di desa yang sejuk dan dulu ia hirupi
udaranya. Kembali ia teringat sahabat karibnya di desa ini, desa Wonobakti yang
pernah ditinggalkannya. Beranjak pasti lamunan Husain berlari menembus sekat
ruang dan waktu menuju suatu masa kala SMA. Kala itu Roni bersiap membuka
bendera yang telah diikat ujung-ujungnya dalam sebuah upacara HUT kemerdekaan dikhususkan
bagi siswa baru peserta MOS, sebenarnya ini tak lebih dari simulasi upacara
karena upacara sesungguhnya akan ditangani siswa kelas sebelas, namun panitia MOS
mampu menyetingnya menjadi upacara serius. Diadakan di lapangan botak berpasir
serta debu yang berterbangan jika tersapu angin kencang berlokasi tepat dibelakang
sekolah. Roni mengapit kedua ujung bendera sangat hati-hati mengingat segala
instruksi yang diberikan pada saat latihan, dan sekejap saja berhasil membentangkan
bendera dalam posisi terbalik, serta merta seisi lapangan peserta upacara
tertawa, tak ayal ini membuat Roni dan dua orang temannya sebagai pengibar
kebingungan karena tak pernah mendapat sebuah rumus baku dari pelatih jika
keadaan semacam ini terjadi, dengan wajah memerah karena malu ketiganya
berusaha memperbaiki bendera Polandia –mungkin trio ini penggemar berat Lewandowski penyerang asal Polandia- yang sempat terbentang agar menjadi bendera Indonesia
seutuhnya. Sementara Husain di belakang mereka, menjadi komando pasukan tertawa
di shaf paling ujung murid-murid kelas sepuluh. Berhembus kabar di kalangan
anggota Paskibra baru ini bahwa Husain lah si konduktor tawa serta memprovokasi
yang lain mengeluarkan ejekan saat tragedi yang menjadi sejarah bagi trio
pengibar bendera upacara ini. Kabar ini sontak membuat Roni dan kedua rekannya
mencari Husain pada jam istirahat. Lokasi pertama adalah kamar mandi –entah apa
yang dipikirkan trio kwek-kwek gadungan ini memilih kamar mandi sebagai tempat
pencarian pertama. Aneh- namun yang mereka temukan hanya ruang kotor tak
terurus menjijikan, kamar mandi tanpa air, bau menyengat juga tanpa penerangan, bereternet bolong. Hanya itu yang
mereka temui, sungguh tak layak disebut kamar mandi bahkan kandang monyet
sekalipun. Kenyataannya dibeberapa sekolah masih ditemukan hal seperti ini. Beralih
tempat kedua. Kemudian kantin sekolah mereka datangi, nampak hidangan serba
terbuka hingga lalat ikut menyantap gratis jajanan yang dipajang di meja dekat
si penjaga yang murah hati bahkan kepada lalat sekalipun. Kembali mereka tak
menemukan Husain. " dimana Husain? " tanya Roni bak jagoan neon
kepada teman satu kelas Husain, " Tau!! " jawab singkat lawan bicaranya.
Akhirnya mereka putuskan untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu sebelum
melanjutkan misi, coba menikmati batagor yang telah dijilati lalat-lalat hijau,
dikotori kotoran lalat tepatnya. Waktu semakin sempit beberapa murid telah
kembali ke kelasnya, dalam perjalanan mereka menemukan Husain di lorong sekolah,
tanpa banyak tanya Jamal menarik Husain ke sebuah kelas agar tak diketahui
Guru, bahwa prosesi introgasi serta penyiksaan akan mereka lakukan. Sial tak
dapat ditolak, justru kelas yang rencananya menjadi saksi bisu tindakan mereka bertiga
adalah kelas Husain, awalnya kelas hanya terdiam tapi tiba-tiba menjadi
menyeramkan, wajah-wajah tak bersahabat seperti zombie hendak memakan trio dara,
ketika tahu temannya mendapatkan perlakuan kasar, bukannya Husain yang tertekan
malah anggota Paskibra yang tempramen ini menjadi bulan-bulanan kelas Husain.
***
Ramadhan, pesantren kilat digelar maka untuk mengatur siswa agar lebih mudah terkontrol dibuatlah kelompok kelompok kecil. Roni dan Husain dijodohkan dalam satu kelompok beserta 8 orang siswa yang lain. Hampir sepekan mengikuti acara ini akhirnya kondisi mencair, Husain membuka sapaannya dan dari sanalah kedekatan meraka dimulai, hingga mereka bersahabat. Pernah Husain ditunjuk sebagai imam kelompok ini karena lebih pandai ilmu agamanya ketimbang yang lain, saat inilah yang tepat bagi Roni membalaskan dendamnya. Takbir diucapkan keras Husain mengawali shalat Dzuhur -hanya maghrib, isya, tarawih dan shubuh yang dilakukan berjamaah satu sekolah, sisanya perkelompok- terakhir ucapan Salam mengakhiri shalat, Husain bingung bukan kepalang tatapannya tajam melihat seisi ruangan yang kosong tak bertuan, " kemana makmum yang kupimpin? " guman Husain dalam hati. Buahahaa.. Tawa keras kelompoknya mengisi ruang dimana Husain duduk sendiri, diawali Roni keluar dari pintu diikuti yang lain masuk satu persatu, " untuk apa aku niat menjadi imam? Untuk apa aku memberi tanda dengan suara keras jika tak ada makmum? " dalam hati Husain menahan kesal. Beruntung Husain mampu mengendalikan emosinya karena masih berpuasa, sama ketika ia tak dibangunkan sahur tepat waktu, ditinggalkan sendiri, sementara yang lain berkumpul di aula, dia harus berlari dan makan pada waktu imsak. Siangnya Roni mengakui bahwa dialah yang memerintahkan tak membangunkan Husain, " Sein kalau bulan puasa harus jujur ya? " Husain mengangguk pada Roni " terus gak boleh marah kan? " " iya emang kenapa sih? " Husain menimpali pertanyaan Roni " tadi pagi aku yang nyuruh anak-anak tidak membangunkanmu haahaaha " jelas Roni singkat " wedus kowe Ron " jawab Husain " tapi masih bisa sahur kan! " haahaha.. Keduanya tertawa.
Ramadhan, pesantren kilat digelar maka untuk mengatur siswa agar lebih mudah terkontrol dibuatlah kelompok kelompok kecil. Roni dan Husain dijodohkan dalam satu kelompok beserta 8 orang siswa yang lain. Hampir sepekan mengikuti acara ini akhirnya kondisi mencair, Husain membuka sapaannya dan dari sanalah kedekatan meraka dimulai, hingga mereka bersahabat. Pernah Husain ditunjuk sebagai imam kelompok ini karena lebih pandai ilmu agamanya ketimbang yang lain, saat inilah yang tepat bagi Roni membalaskan dendamnya. Takbir diucapkan keras Husain mengawali shalat Dzuhur -hanya maghrib, isya, tarawih dan shubuh yang dilakukan berjamaah satu sekolah, sisanya perkelompok- terakhir ucapan Salam mengakhiri shalat, Husain bingung bukan kepalang tatapannya tajam melihat seisi ruangan yang kosong tak bertuan, " kemana makmum yang kupimpin? " guman Husain dalam hati. Buahahaa.. Tawa keras kelompoknya mengisi ruang dimana Husain duduk sendiri, diawali Roni keluar dari pintu diikuti yang lain masuk satu persatu, " untuk apa aku niat menjadi imam? Untuk apa aku memberi tanda dengan suara keras jika tak ada makmum? " dalam hati Husain menahan kesal. Beruntung Husain mampu mengendalikan emosinya karena masih berpuasa, sama ketika ia tak dibangunkan sahur tepat waktu, ditinggalkan sendiri, sementara yang lain berkumpul di aula, dia harus berlari dan makan pada waktu imsak. Siangnya Roni mengakui bahwa dialah yang memerintahkan tak membangunkan Husain, " Sein kalau bulan puasa harus jujur ya? " Husain mengangguk pada Roni " terus gak boleh marah kan? " " iya emang kenapa sih? " Husain menimpali pertanyaan Roni " tadi pagi aku yang nyuruh anak-anak tidak membangunkanmu haahaaha " jelas Roni singkat " wedus kowe Ron " jawab Husain " tapi masih bisa sahur kan! " haahaha.. Keduanya tertawa.
***
Tak beruntung bagi Roni, ia tidak dapat meneruskan sekolahnya yang tinggal satu tahun karena biaya, sekalipun untuk pendidikan masih banyak masyarakat dalam kemiskinan yang tak bisa menyekolahkan anak-anaknya. Orang tua Roni tinggal ibunya yang berprofesi sebagai penjual bubur sumsum -penganan dari tepung beras- selalu sakit-sakitan, kondisinya semakin memburuk karena tak mampu berobat. Di Indonesia orang miskin tak boleh sakit. Selang satu tahun ibu Roni wafat. Husain datang dipemakaman beserta teman-temannya yang lain, kemudian menghiburnya sekaligus akan berpamitan karena Husain akan kuliah di Jakarta. " Ron, sabar yak, ibumu pasti akan masuk surga, kamu yang tabah ya Ron " Roni tak mampu menahan tangisnya, nafasnya yang berat ia lepaskan sembari memeluk sahabatnya Husain. Begitu juga Husain tak bisa bersandiwara betapa sedih melihat nasib sahabatnya yang amat menyedihkan. " aku belum menyenangkan ibuku Sein, aku tak sempat, aku masih menyusahkannya Sein, aku takut Sein.. aku sendirian sekarang, aku kangen Sein " Roni berbicara dalam tangis yang menjadi-jadi " iya Ron, sabar Ron, menangislah Ron" Husain menenangkan sahabatnya menguatkan rangkulannya, memberi tanda bahwa ia tak sendiri, walau tak lama lagi ia akan mengucapkan salam perpisahan yang harus ia tunda melihat kondisi Roni. " setelah ini kamu tinggal dimana Ron? " " aku akan tinggal di rumah pamanku, Sein" Roni menjawabnya.
Tak beruntung bagi Roni, ia tidak dapat meneruskan sekolahnya yang tinggal satu tahun karena biaya, sekalipun untuk pendidikan masih banyak masyarakat dalam kemiskinan yang tak bisa menyekolahkan anak-anaknya. Orang tua Roni tinggal ibunya yang berprofesi sebagai penjual bubur sumsum -penganan dari tepung beras- selalu sakit-sakitan, kondisinya semakin memburuk karena tak mampu berobat. Di Indonesia orang miskin tak boleh sakit. Selang satu tahun ibu Roni wafat. Husain datang dipemakaman beserta teman-temannya yang lain, kemudian menghiburnya sekaligus akan berpamitan karena Husain akan kuliah di Jakarta. " Ron, sabar yak, ibumu pasti akan masuk surga, kamu yang tabah ya Ron " Roni tak mampu menahan tangisnya, nafasnya yang berat ia lepaskan sembari memeluk sahabatnya Husain. Begitu juga Husain tak bisa bersandiwara betapa sedih melihat nasib sahabatnya yang amat menyedihkan. " aku belum menyenangkan ibuku Sein, aku tak sempat, aku masih menyusahkannya Sein, aku takut Sein.. aku sendirian sekarang, aku kangen Sein " Roni berbicara dalam tangis yang menjadi-jadi " iya Ron, sabar Ron, menangislah Ron" Husain menenangkan sahabatnya menguatkan rangkulannya, memberi tanda bahwa ia tak sendiri, walau tak lama lagi ia akan mengucapkan salam perpisahan yang harus ia tunda melihat kondisi Roni. " setelah ini kamu tinggal dimana Ron? " " aku akan tinggal di rumah pamanku, Sein" Roni menjawabnya.
***
Pada tahlil bertepatan tujuh hari
mendiang ibunya, Husain tak lagi terlihat, ia hanya meninggalkan surat yang titipkan
untuk diserahkan pada Roni bahwa : ia tak mampu berbicara jika akan meninggalkan
Roni sendiri, untuk kuliah di Jakarta. "Ron sahabatku, maafkan temanmu tak
dapat hadiri tahlilan ibumu, aku tak akan sanggup berbicara langsung kepadamu,
namun setelah urusanku di Jakarta selesai aku akan kembali lagi. Sahabatmu dan
menyayangimu -Husain-" Dan setelah membacanya Roni memakluminya. Seraya berdoa
kepada langit agar sahabatnya diberikan keberhasilan di Jakarta
***
Sembilan tahun lebih berlalu. Roni kini berkeluarga, memiliki seorang anak dan istri yang setia dalam kepahitan dunia. Genap 4 tahun usia anaknya, genap pula kondisi memprihatinkan dari kesehatan sang anak. Kekurangan gizi hingga penyakit yang diderita. Jangan coba tanya berobat, kadang keluarga ini harus berpuasa karena tak mampu membeli makanan, di rumah milik ibunya yang Roni tempati kembali, setidaknya dapat sedikit menolong pengeluaran biaya hidup. Walau kondisinya sangat kumuh tak layak huni. Entah apa yang terbesit di pikiran Roni. Malam itu ia melihat wajah istri tercintanya pucat sembari memegangi perut. Roni tahu, belahan jiwanya menahan lapar. Tanpa piker panjang ia nekat mencuri angsa milik juragan desa bernama Darno. Darno ialah lintah darat juga tengkulak yang membeli murah hasil panen petani, atau mendapatkannya cuma-cuma karena hutang si petani bahkan sekedar menutup bunga hutangnya saja. Roni gelap mata ia mengendap ke belakang kebun untuk mendekati kandang angsa si Darno yang berupa pagar, setelah berhasil masuk Roni segera menangkap satu ekor angsa. Celaka kepala angsa ini sulit digenggam untuk dibungkam karena mengeluarkan suara berisik yang bias saja membangunkan empunya rumah. Dia segera berlari namun belum sempat keluar kandang, Darno yang hendak keluar rumah meneriakinya dan kebetulan beberapa hansip yang sedang berkeliling melintas, kontan Roni melempar angsa itu, namun ia tak dapat menandingi lari hansip dan warga yang seperti anjing liar mengejar buruannya. Roni berhasil dibekuk dihajar habis-habisan digelandang ke kantor RT setempat. Perilaku main hakim sendiri masyarakat Indonesia ini tidak hanya karena alasan buta hukum namun karena kearoganan segelintir warga yang sok jago dan sok kuat, tapi dungu, sehingga beranggapan bahwa merekalah hakim sejati. Tidak perlu tahu penyebab atau faktor apapun. Sungguh membuat muak dan memalukan. barbar sadis. Setelah hampir merasakan kematiannya akan datang karena tak henti-hentinya warga memukulinya barulah polisi datang segera mengamankan dan membawa ke polsek untuk ditindaklanjuti. Malang tak dapat ditolak Darno menuntut proses litigasi sebagai lanjutan kasus ini.
Sembilan tahun lebih berlalu. Roni kini berkeluarga, memiliki seorang anak dan istri yang setia dalam kepahitan dunia. Genap 4 tahun usia anaknya, genap pula kondisi memprihatinkan dari kesehatan sang anak. Kekurangan gizi hingga penyakit yang diderita. Jangan coba tanya berobat, kadang keluarga ini harus berpuasa karena tak mampu membeli makanan, di rumah milik ibunya yang Roni tempati kembali, setidaknya dapat sedikit menolong pengeluaran biaya hidup. Walau kondisinya sangat kumuh tak layak huni. Entah apa yang terbesit di pikiran Roni. Malam itu ia melihat wajah istri tercintanya pucat sembari memegangi perut. Roni tahu, belahan jiwanya menahan lapar. Tanpa piker panjang ia nekat mencuri angsa milik juragan desa bernama Darno. Darno ialah lintah darat juga tengkulak yang membeli murah hasil panen petani, atau mendapatkannya cuma-cuma karena hutang si petani bahkan sekedar menutup bunga hutangnya saja. Roni gelap mata ia mengendap ke belakang kebun untuk mendekati kandang angsa si Darno yang berupa pagar, setelah berhasil masuk Roni segera menangkap satu ekor angsa. Celaka kepala angsa ini sulit digenggam untuk dibungkam karena mengeluarkan suara berisik yang bias saja membangunkan empunya rumah. Dia segera berlari namun belum sempat keluar kandang, Darno yang hendak keluar rumah meneriakinya dan kebetulan beberapa hansip yang sedang berkeliling melintas, kontan Roni melempar angsa itu, namun ia tak dapat menandingi lari hansip dan warga yang seperti anjing liar mengejar buruannya. Roni berhasil dibekuk dihajar habis-habisan digelandang ke kantor RT setempat. Perilaku main hakim sendiri masyarakat Indonesia ini tidak hanya karena alasan buta hukum namun karena kearoganan segelintir warga yang sok jago dan sok kuat, tapi dungu, sehingga beranggapan bahwa merekalah hakim sejati. Tidak perlu tahu penyebab atau faktor apapun. Sungguh membuat muak dan memalukan. barbar sadis. Setelah hampir merasakan kematiannya akan datang karena tak henti-hentinya warga memukulinya barulah polisi datang segera mengamankan dan membawa ke polsek untuk ditindaklanjuti. Malang tak dapat ditolak Darno menuntut proses litigasi sebagai lanjutan kasus ini.
***
Dalam acara persidangan hakim telah memutuskan bahwa Roni bersalah, ada beberapa hal yang meringankan Roni sehingga tidak perlu menghabiskan 5 tahun dalam sel. Roni terjerat pasal 362 pelaku diancam hukuman 5 tahun atau denda sembilan ratus ribu rupiah. Cukup 4 tahun saja bagi Roni. Semua telah dibacakan, ditimbang, dan diputuskan. Terakhir menunggu hakim Husain sahabat masa remajanya sewaktu SMA mengetukkan palu. Begitulah hukum di negeri siluman ini, hukum diciptakan untuk melindungi kepentingan orang-orang kaya, dan pejabat korup. Tajam kebawah namun tumpul lembut keatas.
Dalam acara persidangan hakim telah memutuskan bahwa Roni bersalah, ada beberapa hal yang meringankan Roni sehingga tidak perlu menghabiskan 5 tahun dalam sel. Roni terjerat pasal 362 pelaku diancam hukuman 5 tahun atau denda sembilan ratus ribu rupiah. Cukup 4 tahun saja bagi Roni. Semua telah dibacakan, ditimbang, dan diputuskan. Terakhir menunggu hakim Husain sahabat masa remajanya sewaktu SMA mengetukkan palu. Begitulah hukum di negeri siluman ini, hukum diciptakan untuk melindungi kepentingan orang-orang kaya, dan pejabat korup. Tajam kebawah namun tumpul lembut keatas.
***
Selama dalam masa tahanan Husain mengurus anak Roni dan mempekerjakan istrinya Roni untuk membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah tangga.
fahmibellamy 20121021
Selama dalam masa tahanan Husain mengurus anak Roni dan mempekerjakan istrinya Roni untuk membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah tangga.
fahmibellamy 20121021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar