Sabtu, 24 Mei 2014

Indah Gede Pangrango


Seingatku ini yang keempat kalinya perjalananku menuju Gunung Gede, disinilah pertama kali ku melihat sunrise, pertama kali merasakan dingin menusuk, pertama kali berada di ketinggian yang membuatku percaya Tuhan nyata ada. Namun selain itu ada hal lain yaitu arti sebuah persahabatan, dimana sebelumnya selalu Aku agung-agungkan makna kebersamaan, lalu berubah ketika itu juga bahwa makna persahabatan ialah "Pengertian" bukan hanya kebersamaan. Ketika kaki tak sanggup melangkah Aku melihat kawan di depanku menoleh ke arahku, seolah menunggu walau kakinya terus berjalan, seperti bicara "ikuti langkahku pijak apa yang Aku pijak agar kau selamat, kubuka jalur kubawa kau mengerti, dan jika Aku semakin jauh maka kau akan paham" Sementara dibelakang kutinggalkan lelah penat penuh tanya sampai kapan kawan? Yang kutahu kawanku tak mungkin berdusta bahwa di puncak sana ada pintu penghubung para Dewa yang indah.

Kembali ke cerita pendakian terakhir Tanggal 15 Mei 2014 dan kami pergi berempat, sengaja kupilih transportasi umum untuk bernostalgia bahwa dulu Aku pernah seperti ini, dulu Aku ditunjukan jalan, dulu Aku dibimbing dan kini giliranku. Sesampainya di cibodas kami menginap di warung tempat biasa para pendaki menginap sebelum lanjut mendaki, malam itu lumayan dingin dan sepertinya tak ada yang tidur nyenyak. Pagi kami kembali check ulang persiapan bawaan ada beberapa yang harus dibeli termasuk kompor darurat yang harus dibuat.


Saya akan perkenalkan teman-teman Saya satu persatu, yang pertama adalah Hendri alias ode, sebenarnya dia tidak termasuk didalam Tim yang akan berangkat, namun karena salah satu peserta tak bisa ikut maka dengan pertimbangan pengalaman dan memiliki jam terbang yang lumayan maka Saya pilih dia, pribadi yang satu ini terkenal rame, apa saja dibahas suka berkelakar tahan banting dan tahan lapar. Yang kedua adalah Sari, dia teman satu perusahaan yang benar-benar antusias ingin mengetahui seperti apa rasanya berada dialam terbuka, semangatnya terlihat tiap kali bicara tentang alam, pribadi yang ini juga rame senang bergurau agak penakut karena selalu minta ditemani Peni jika akan buang air kecil hiihi... Yang terakhir ya itu tadi, Peni namanya, yang Saya kenal dari komunitas peduli anak yatim, Saya tidak menangkap rasa ingin tahunya akan alam bebas namun katanya dia tak pernah jalan-jalan seperti ini, terbukti selalu bertanya "berapa jam? Berapa kilo? dll.." artinya harus tahu sendiri, seperti Saya dulu yang selalu bertanya karena penasaran, yang ini pribadinya juga sama periangnya dengan yang lain suka bercanda dan humoris, makannya juga sedikit (alhamdulillah).

Berlanjut dari pintu masuk Saya urus izin masuk sambil membeli makanan jadi untuk bekal makan siang bersama, pelan tapi pasti kami meninggalkan pintu masuk lalu tenggelam di hijaunya rimbun pepohonan, ode berada dibaris terdepan, lalu sari mengikuti dibelakangnya dengan pasti, peni tepat didepan Saya perlahan melangkah, memang seperti ini aturan mainnya ada leader ada penyapu dibelakang memastikan Tim aman bergerak. Seperti kekhawatiran kami dibawah akan hujan ini benar-benar terjadi, beruntung persiapan mantel berlebih hingga satu masalah terlewati, rintik hujan tak berhenti diselimuti kabut lebat turun mendinginkan tubuh yang sudah lelah, tak terasa jam menunjukan lewat pukul satu siang waktunya istirahat mengisi perut, sembunyi di lebat dedaunan agar makanan tak berkuah basah gerimis, dua teman perempuan sepertinya kurang bernafsu karena hanya makan sebungkus berdua itupun tak habis semua. Perjalanan kami lanjutkan hujan semakin lebat bahkan ditengah perjalanan ada pendaki dari rombongan lain yang terserang keram perut dalam perawatan nampaknya gejala hypothermia, tak lama kami tinggalkan mereka melanjutkan mendaki, perkiraan saya dua jam sudah kami berjalan setelah bertemu dengan rombongan yang mendapatkan kesulitan sebelumnya dan tak beberapa lama kembali seorang perempuan digendong pendaki lain, wajahnya pucat bibirnya membiru "sial ini benar-benar terkena hypothermia" dalam hati berkata. Saya khawatir pada sari dan peni yang sangat kelelahan namun sedikit sekali makan, kemudian Saya berunding dengan ode agar tak perlu berkemah di kandang badak, jika memang ada tempat memungkinkan maka disana kami berkemah, setelah melewati air panas matahari mulai diujung barat dan segera ode mencari lahan bertenda, akhirnya kami berkemah dekat sungai hangat. Saat bongkar packing tiba-tiba hujan besar menyambut mau tak mau tenda harus berdiri sekalipun badan basah tanpa mantel dibadan yang sudah kami tanggalkan, rupanya tanah sudah dialiri air sehingga alas tenda menjadi ikut banjir, beruntung ode membawa karpet plastik setidaknya dapat menahan air, matras mulai dibuka tas dan carriel basah masuk dalam tenda membuat matras ikut basah semua, para wanita mulai menyeka matras dengan tisu gulung meski tak mungkin sepenuhnya kering apa boleh buat. Giliran mengganti baju basah peni dan sari di dalam tenda, Saya dan ode keluar sementara hujan deras membuat tubuh makin menggigil, setelahnya Saya dan ode hanya mengganti baju saja tak mungkin juga meminta para cewe keluar tenda, itulah kenapa selalu ada gerbong wanita tak ada judul gerbong Pria (kecuali narapidana) :D . 




Saatnya memasak air untuk membuat teh untuk menghangatkan perut, kemudian Saya menjadi koki dadakan menyiapkan makan malam seadanya, satu bungkus nasi sisa kami bagi berempat dengan nugget dan bakwan saja kami habiskan bersama, berhubung sudah sangat lelah kami beristirahat mencoba tidur tapi saya dengan celana basah ini rasanya tidak mungkin bisa tidur, menggunakan selimut Saya ganti celana "ahh bgini lebih baik" ode nampaknya masih betah dengan celana basahnya. Ditenda yang sempit dengan manusia dan peralatan basah memaksa kami tak lelap tidur, beruntung suhu udara malam tidak terlalu dingin karena hingga malam hujan masih setia menemani, hingga subuh menjelang kekacauan terjadi Saya terkejut mendengar teriakan "Yonk tikus bangun Yonk, tikus hutan.." waaa semua teriak peni dan ode dibantu sari bernyanyi merdu, Saya masih bingung ada apa? Hahhh tikus? Segera kami berjongkok mencari tikus yang suaranya nyaring dari luar tenda, astaga rupanya seekor musang/luwak hutan disamping tenda kami bukan tikus yang masuk tenda, sudah tanggung jam 4.30 pagi Saya keluar tenda mengambil air dari sungai yang tadi malam keruh karena hujan.

Peralatan memasak kembali digelar didepan tenda mulai memasak air membuat minuman sereal, teh dan kopi andalan. Konsumsi dibongkar mulailah Saya memasak nasi, ayam goreng, kornet, mie rebus telur lengkap bergizi, sengaja Saya memasak sendiri teringat dulu teman memasakan makanan untuk kami santap bersama, kali ini kami makan lumayan banyak dan cukup kenyang. Sambil makan bersenda gurau tertawa aneh bersama.

Sesuai kesepakatan bersama tadi malam kami tidak melanjukan perjalan ke puncak namun kembali ke bawah, maka semua mulai packing, sari ode dan peni bergantian mencuci alat makan masing-masing, Saya merapikan alat masak, barang sudah keluar tenda ode mulai bongkar tenda, peni dan sari merapikan konsumsi dan bawaan yang berantakan, Saya sendiri mencuci piring dan alat masak kemudian segera bergabung ikut packing. Sampah dimasukan plastik tanpa tersisa, rombongan siap berangkat turun.
Kembali di air panas Saya mulai mendokumentasikan melalui kamera hp, ada tiga kamera poket tapi tak digunakan sama sekali karena tak memungkinkan, lagipula "kenangan yang Abadi ada didalam hati" Hai begitulah kata para pujangga. Perjalanan dilanjutkan setelah poto poto narcis selesai, cukup terkejut karena diperjalanan sangat banyak sekali para pendaki kami temui, ini bukan gunung ini pasar kaget karena untuk berjalan saja harus antri pada jalur yang menyempit. Lelah mulai terasa, kini bergantian Saya didepan ode membuntuti dibelakang Tim, ditengah perjalanan air mulai sudah habis artinya Saya harus segera mencari air, dengan berlari Saya mendahului Tim agar pada pos panyangcangan Tim sudah bisa minum air. Setelah mendapatkan air Saya kembali keatas pos, beberapa menit kemudian Tim sudah sampai untuk sebentar istirahat. Akhirnya kami kembali berpoto ria dijembatan panjang, puas berpoto perjalanan dilanjutkan.
Akhirnya kami sampai di pos awal, sampah bawaan Saya buang di bak yang telah ditentukan, lalu melapor bahwa kami telah selesai mendaki, disana kami bertemu tim dari surabaya kebetulan tujuan kami satu arah menuju jakarta. Tiba di warung milik abah kami beristirahat sebentar, makan dan mandi lalu kembali menuju Jakarta.

Alhamdulillah semua lancar dan aman berangkat hingga pulangnya, meskipun tak sampai puncak itu bukan masalah besar, kadang puncak diibaratkan dengan menang, buat kami tidak, lagipula menang bukan tujuan, yang penting adalah benar, benar aman benar nyaman benar berkesan, ada hikmah dari tiap perjalanan. Bisa menang dengan bermain indah tentu lebih berharga daripada sekedar menang. Terimakasih buat semua teman-teman yang bersama-sama ikut dalam perjalanan. Saya pribadi memohon Maaf jika ada hal yang membuat kalian kecewa, dan mudah-mudahan kita bisa kembali bersama-sama berkemah menghabiskan malam untuk saling mengerti, dan berbagi kopi.. ;)