Artikel ini saya tulis berdasarkan perjalanan kami menuju semeru, didalamnya terdapat banyak informasi seperti rute dan waktu tempuh pendakian, informasi biaya keseluruhan dan perorangan, serta informasi tambahan lainnya yang saya buat secara runut mengikuti urutan kejadian nyata menjadi sebuah cerita, kecuali informasi biaya yang akan saya buat dalam list khusus agar mudah diketahui. Bisa dikatakan tulisan ini terlambat saya buat karena kesibukan serta kelelahan selepas kerja, dan dipaksakan saya publish melalui blog meskipun dengan kwalitas tata bahasa yang kurang baik dan saya mohon maaf untuk itu, namun saya berharap tidak mengurangi nilai informasi yang bisa saya bagikan. Ditulisan kedua nanti mudah-mudahan bisa lebih matang dan baik, terima kasih.
• Awalnya berkhayal
"suatu hari nanti sy pasti menginjakan kaki di puncak mahameru." begitu kalimat dalam hati saya ketika sengaja atau tanpa sengaja berselancar di dunia maya lalu menemukan gambar-gambar semeru, atau media apapun sembari melihat rangkaian photo disana. Walau sesekali saya ragu apa mampu? Kadang melihat batas vegetasi kemudian jalur berpasir dalam photo membuat saya merasa ogah melanjutkan niat, bahkan saya rasa disana tidaklah seindah dalam gambar. Rupanya persepektif negative tersebut buat saya pribadi hanya cara untuk menutupi ketidak mampuan saya dalam mewujudkan niat menuju mahameru, "ahh buat apa kesana tandus, berpasir, rinjani lebih indah, gunung gede yang dekat malah jauh lebih nyaman, lokasi ke semerunya jauh bla..bla..bla.." dan itu bukan saya, karena prinsip saya "alasan bukan titik akhir sebuah penjelasan, alasan adalah bentuk lain pertanyaan yang harus dijawab". Jawabannya saya harus kesana.
• Stasiun demi stasiun
 |
| Stasiun Prujakan Cirebon |
Kamis 31 Juli 2014 jam 11 tepat saya dan Hendri juga Asep mulai berangkat menuju stasiun pasar senen, sementara di tempat lain Sari sudah menunggu di stasiun pasar senen sejak jam 11 siang, ini karena saya agak repot cek ulang barang bawaan hingga akhirnya molor 1 jam maklum persiapan ini tidak boleh ada yang terlewati sedikitpun (padahal nonton ftv huahaa..). Akhirnya jam 12.01 sampai st.senen disini kami harus menunggu sampai waktu boarding (aturan baru biar berasa di bandara mungkin) sambil menunggu tidak ada salahnya menikmati kopi dan rokok di kawasan dilarang merokok. Kemudian jam 13.45 boarding mencari tempat sesuai nomor kereta, saya sempatkan untuk sekedar berbincang-bincang ikut nimbrung dengan beberapa penumpang lain, setelah kereta memasuki stasiun seluruh penumpang dipersilahkan mengisi tempat duduk sesuai nomor bangku, saya sarankan segera naik karena kereta hanya sebentar berada disini. 14.15 kereta kertajaya berangkat dari stasiun pasar senen "bismillah". 17.21 berhenti di stasiun prujakan cirebon, turun sebentar untuk mencari angin segar, "gokil" didalam kereta sekarang tidak bisa merokok sekalipun didalam toilet, jika diketahui petugas maka siapapun akan diturunkan di stasiun terdekat. Sekedar informasi saja kini peraturan di KA sangat ketat dan ini bagus sekali, mungkin ada yang berpikir kereta ekonomi itu padat, berdiri, penjual yang bolak balik, tidur di kolong dan sumpek.
 |
| kondisi KRL ekonomi jauh lebih baik |
Sekarang semua sudah berubah, penumpang kereta ekonomi harus pas tempat duduk, sudah ber-AC, tidak ada pengamen penjual makanan dan saudara-saudaranya yang bikin pusing kepala, singkat kata aman,nyaman, cepat dan sejuk. Lanjut pukul 19.55 tiba distasiun pekalongan berhenti selama 5 menit. Pukul 00.00 tepat waktu sekali sampai stasiun bojonegoro, tidak lama lagi tiba di surabaya dan benar saja jam 01.45 sampailah di stasiun terakhir pasar turi. "untuk mencapai tujuan, seseorang harus melewati satu persatu hal diluar pengetahuannya dan kenyamanannya, atau pulang dan larilah ditempat".
• Surabaya Pasuruan home sweet home
Sambil mengobrol kami menunggu teman datang menjemput dengan mobil patrolinya (anda tidak sedang salah baca, kami naik mobil patroli lengkap dengan sirine dan itu dibunyikan ketika masuk jalan tol, berasa penjahat yang kena razia hahhaa.. Aneh ya? Yupz begitulah ide saya membuat perjalanan ini menarik, dibantu teman di Surabaya) rencananya mereka akan datang jam 05.30 yang artinya dari jam 01.45 sampai 05.30 jadi gelandangan tidur depan kios roti O hingga karyawan membuka kios dan kita harus menyingkir "jatah gembel abis bang.." ya mau bagaimana? jika naik taksi tentu biayanya lebih mahal, setidaknya hanya perlu sedikit bersabar untuk menekan pengeluaran "saya kira, kita sebagai ahli ekonomi dapat sepakat heehe..." Kira-kira pukul 05.30 jemputan datang langsung tancap gas menuju Pasuruan via tol dan hanya butuh waktu kurang dari 40 menit saja sampai rumah sahabat, namanya Hamid dulu partner in crime sekaligus berbuat kebajikan bagi negara, setelah itu ia merantau ke Surabaya, bekerja dan berkeluarga disana tidak heran jika saya pergi kesana apapun kebutuhan saya semua bisa ia handle heheee.. Karena dia orang Jakarta kita sebut saja bang Hamit. Baru tiba di rumahnya kami telah disuguhi sarapan tanpa menunggu, Kami dipersilahkan membersihkan diri juga beristirahat, kecuali saya yang harus membantu teman memperbaiki kulkasnya yg rusak total, sembari memperbaiki memberikan arahan sistem kerja mesin pendingin layaknya "orang bener". Di layar handphone terlihat sudah hampir pukul 14.00 mata saya lelah sekali maka saya izin pamit beristirahat yang cuma 1 jam saja, bangun dari tidur segera bang Hamit mengajak mencari bakso untuk teman-teman lain yg masih tidur, kembali ke rumah ternyata mereka sudah bangun siap menyantap bakso yang saya bawa.
Malamnya kami sowan (silaturahim) ke rumah Pak Wardi, siapa Pak Wardi? Tahun 2011 saya pernah tinggal dan bekerja di Pasuruan, Pak Wardi lah yang membantu saya disana, memberikan saya tempat tinggal bahkan makan selama saya disana, sekalipun kami baru kenal, lalu predikat apa yang pantas bagi orang yang sebaik itu? Teman? Sahabat? Atau keluarga? Terserah sampean mau jawab apa, istrinya bernama Ibu I'in wanita yang jarang ada di dunia dengan prilaku cueknya berhasil menutupi kesan bahwa kenyataannya ia seorang intelek, dan anaknya bernama Akbar. Akbar melepaskan rindu sampai menangis memeluk saya "gw merasa bersalah karena dulu pernah tiba-tiba meninggalkan keluarga ini karena gw mendapatkan panggilan kerja di Jakarta, begitulah hidup, lu harus melepas sesuatu yang lu sayangi dalam satu waktu saja dari tiga yaitu pagi, siang atau malam, ternyata itulah yang terbaik" terlintas bayangan di masa itu waktu kami tinggal satu atap, bekerja bersama, berlibur ke banyak tempat dll. seperti kembali ke rumah, home sweet home.
• Packing
Inilah bagian yang amat penting bagi pendaki, packing alat serta keperluan lainnya. Ketika di rumah pak Wardi kami bingung karena bahan bakar spirtus tak sempat dibeli, beruntung Pak Wardi tahu ada matrial (toko alat bangunan) yang masih buka sampai malam, hasilnya saya mendapatkan tiga kantong spirtus, cukup digunakan karena akan ada gas botolan yang telah disiapkan teman saya. Pesan saya jangan andalkan satu bahan bakar saja, kemungkinan buruk bisa terjadi kelak.
"kebanyakan manusia bodoh mempersiapkan dirinya ketika tahu kapan akan diuji, namun yang pintar selalu belajar apa saja kapan saja, karena ujian yang tersulit datang diantara tarikan dan hembusan nafas".
Konsumsi dan obat kami membeli di mini market sebagian dari bang Hamid, barang tersebut antara lain Beras, mie instan, kornet, jelly bubuk, telur, susu, roti, kopi, gula garam, ikan asin, ayam siap saji dan sebagainya. Adapun obat -obatan sangat sedikit kami siapkan hanya obat pribadi saja, yang nantinya ini menjadi masalah besar.
Pulang ke rumah bang Hamid kami packing alat antara lain, sleeping bag satu orang satu sleeping bag, dua tenda, Trangia (lengkap), kompor gas, sendok, gelas plastik, jas hujan, serta peralatan pribadi di masing-masing carriel, tidak perlu membawa banyak pakaian biasa, bawalah jaket, celana hangat, kaos kaki, sarung tangan semua dua rangkap, kupluk, sendal cadangan, botol air dan lainnya, lengkapi semuanya tak semua saya tulis lengkapi saja semua. Kemudian kami beristirahat karena jam lima pagi harus bangun rencana berangkat jam tujuh pagi. "meski nampaknya seperti itu, tetap saja kamu bukanlah apa yang kamu bawa, melainkan apa yang diusahakan melalui karya"
• Perjalanan dimulai
Pukul 07.00 saya terbangun dengan rasa nyeri di tubuh, terkejut seketika karena harusnya kami sudah berangkat jam 7, lalu segera saya bangunkan semua agar secepatnya mandi dan melakukan cek ulang semua persiapan dilanjut sarapan pagi yang disiapkan istri bang Hamit, di lain tempat mas Anil sudah siap menunggu di Malang, mas Anil ini yang akan menemani kami ke semeru dia rekan kerja bang Hamit di pemkot Surabaya, jam terbangnya tak diragukan lagi bahkan belasan kali sudah ke semeru baik secara bersama atau sendirian, bayangkan sendirian ke semeru yang kala itu masih sepi pengunjung, tak hanya pulau jawa hampir seluruh Indonesia pernah ia datangi juga aktif ikut pelatihan bersama tentara dan organisasi pecinta alam dan sebagainya oleh karena itu tak salah jika saya merasa tenang, namun jangan membayangkan mas Anil bertubuh kekar besar berwajah sangar khas anak gunung, asal tahu ia pernah mengajar di pesantren milik ustad Yusuf Mansyur, seorang sarjana pendidikan yang punya sertifikat mengajar "lu bayangin sendiri deh kayak apa orangnya hehehee".
 |
| Sekitar Pasar Tumpang |
Jam 09.30 kami sudah naik bus menuju Malang berhubung masih musim libur kemacetan tak dapat dihindari di sekitar tempat wisata dari Pasuruan menuju Malang, kami tidak turun di terminal Arjosari namun turun di Taspen dan mas Anil sudah dua jam menunggu, beruntung dia dapat memahami kami yang kelelahan hingga bangun telat. Setelah perkenalan kami berangkat naik angkot jam 11.35 dari Taspen menuju tumpang, tiba jam 12.15 dilanjutkan dengan membeli kekurangan bahan konsumsi yang tak sempat dibeli, Hendri dan Asep membeli sayur sop, tempe, bumbu, margarine, madurasa, nutrisari, air mineral, mangkok plastik dan banyak lagi, Sari saya minta untuk membeli materai 6000 guna keperluan pendaftaran, sementara saya sibuk cari minuman ringan untuk saya sendiri "soalnya haus pengen milk tea yg dingin" dan cari mesin ATM "naik truk ke Ranupani bayar bro". Hendri dan Asep kembali dari pasar lalu packing ulang semua kebutuhan di gunung nanti, setelah semua lengkap kami menuju lokasi pangkalan jeep dan truk, disinilah kerumitan terjadi karena aturan baru, seperti ini aturannya:

semua calon pendaki wajib mengisi formulir pendaftaran disini tak lagi diatas, calon pendaki harus berjumlah minimal 15 orang baru akan diberangkatkan, jika belum 15 orang maka menunggu kelompok lain hingga jumlah total mencukupi, tarif perorang Rp.35.000,- jika menyewa jeep maka biayanya dikenakan Rp. 525.000 sekali jalan padahal bulan februari masih berkisar Rp.350.000. Biasanya dari Tumpang langsung naik menuju Ranupani kini calon pendaki harus naik angkot sampai parking area sejauh (kurang lebih) 10KM dengan biaya Rp.7000 perorang, saya protes karena menurut warga biayanya Rp.6000 nego berhasil, setelah saya selidiki ternyata awak supir angkot berdemo karena iri tidak mendapat penumpang para pendaki dari Tumpang sehingga aturan ini diterapkan "menurut gue malah nambah pengeluaran". Hendri dan Asep mencari tukang poto copy untuk KTP dan surat keterangan sehat dari RS, saya membeli enam bungkus makan siang, karena Hendri dan Asep lama sekali saya menunggu sambil menikmati kopi panas, tak terasa jam 13.00 akhirnya persyaratan lengkap lalu mas Anil memberikan persyaratan tersebut, bang Hamit lalu pamit meninggalkan kami untuk kembali lagi ke Pasuruan. sejauh ini baru kami saja 5 orang menunggu disini, sudah pukul 14.20 baru ada 9 calon pendaki, sempat kesal saya melobi kelompok lain untuk patungan menyewa jeep dan mereka setuju, namun menunggu dua orang dari mereka mempoto copy formulir kembali, perut terasa lapar akhirnya kami makan rupanya ada beberapa pendaki lagi yang datang, artinya kami batal menyewa jeep, sampai jam 4 sore lengkaplah jumlah minimal pendaki, berangkat jam 16.13 menggunakan angkot lalu diturunkan di parking area kemudian setelah membayar angkot lanjut naik truk menuju Ranupani, tak kurang jam 6 sore baru sampai Ranupani,
 |
| kantor balai TNBTS yang lama |
tempat pendaftaran telah ditutup kami harus menunggu besok pagi, kami tidak mendirikan tenda karena ada shelter yang sering digunakan pendaki menginap, lumayan untuk istirahat, cukup gelap serta dingin karena angin tembus dari eternet yang bolong, banyak sekali orang disini, kami mendapatkan tempat di lantai yang kami alasi matras, saya minta Hendri memasak air membuat kopi dan teh guna menghangatkan tubuh, setelah itu Hendri dan Sari membeli makanan entah kenapa mereka lama sekali mungkin 1 jam lamanya, rupanya mereka membawa nasi goreng dan telah makan di warung berdua. Saya, mas Anil dan Asep menyantap makan malam sambil berbincang-bincang bersama, lelah sudah terasa kami tidur dengan lelap "gak tau juga yang lain tidur apa ngerasain dingin!? Klo gw gak berasa apa-apa taunya dah pagi aja hiihi"
 |
| pagi di Ranu Pani |
Jam 05.30 saya lihat Hendri sudah memasak air membuat kopi dan sereal, sesudah menikmati kopi dan cahaya mentari saya mulai memasak nasi, tempe dan ayam goreng untuk sarapan hanya dengan 1 kompor trangia berbahan bakar spirtus karena kompor gas rusak, benar saja antisipasi membawa 2 bahan bakar sangat bermanfaat, Asep mencoba memperbaiki kompor gas namun kebocoran ini perlu part yang tak kami punya, untuk mempercepat waktu Asep meminjam kompor pendaki lainnya, selesai masak saya dan mas Anil turun ke tempat pendaftaran khawatir antrian panjang, rupanya belum juga buka, akhirnya mas Anil kembali menuju shelter meminta yang lain untuk packing dan turun agar tak kesiangan berangkat, saya perhatikan ditempat lain banyak orang berkumpul rupanya disanalah tempat pendaftaran yang baru 1 bulan lalu pindah meninggalkan kantor lama tanpa saya ketahui sebelumnya, bergegas saya menyalip antrian dan percuma saja karena akan dipanggil berdasarkan urutan, kurang lebih jam 9 proses pendaftaran selesai, tim telah berkumpul di depan kantor balai yang lama, sebentar sarapan kemudian kami berangkat jam 9.30 tepat, sebelum memulai sesuatu kami berdoa dipimpin oleh saya "gua lihat dari raut wajah tim dan suasana hatinya menjadi gelisah kalau gua yang pimpin doa, tenang bro gua juga sama, perasaan gua gak enak".
 |
| keluarga pedagang membawa serta anak mereka |
Diperlukan 1,5 jam untuk mencapai pos 1 tepatnya pukul 11.05 kemudian istirahat 10 menit di pos yang ramai pendaki beristirahat, penjual makanan dan minuman juga ada di pos ini, setelah ini sendirian Asep berjalan terlebih dahulu meninggalkan tim. Setengah perjalanan menuju pos 2 mas Anil secara tak sengaja bertemu dengan temannya yang sedang menjadi tour guide hendak kembali ke Ranupani, mas Anil tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meminjam kompor gas, rupanya mereka tak membawa kompor gas namun mas Anil berhasil meminjam 1 set kompor trangia dari temannya, dan jam 11.39 kami tiba di pos 2 tanpa beristirahat kami lanjutkan perjalanan, pundak saya mulai terasa pegal "kalau jalan pelan begini makin sakit ni pundak, mending gua duluan deh" begitu hati saya berkata, Akhirnya saya meninggalkan mas Anil, Hendri dan Sari. "perjalanan baru dimulai jika kesiapan untuk meninggalkan telah ada, atau Aku paksa kamu meninggalkan, agar dimulai dan berakhir"
• Ranu Kumbolo
Dari sudut mata saya melihat seperti ada lembah yang luas dan saya pertegas ternyata itu Ranu kumbolo berkata hati saya "ini Ranu Kumbolo? sampai juga, mata gua gak salah lihat, gila ini indah banget dan ditengah belantara hutan ada sumber kehidupan yang sangat besar, mungkin ini debu surga yang jatuh di bumi?"
 |
| Ranu Kumbolo (dari pos III) |
makin cepat saya berjalan dan mengabadikan pemandangan ini melalui kamera smartphone, saya tak sadar ternyata mas Anil sudah dibelakang saya namun saya belum puas mengabadikan pemandangan ini, suara mas Anil mengalihkan fokus saya, ia berkata "Yonk si Asep kemana? Sudah lihat di pos itu ada nda' orangnya?" sambil memandang sebuah pos yang berada di jalur awal Ranu Kumbolo, saya berhenti memainkan kamera hp karena pasti tak akan cukup kapasitas memori demi menyimpan semua keindahan ini, lalu teringat Asep yang tidak ada di pos 3 "gak ada Nil, tadi dah gw lihat dia gak ada mungkin dah kebawah kali ya? Soalnya dia bilang mau mancing" jawab saya. Mas Anil duduk sebentar lalu mengajak saya turun menuju shelter Ranu kumbolo "ayo Yonk kita turun tunggu dibawah saja" saya segera turun mengikuti langkah mas Anil dan bertanya "jalur ayak-ayak sebelah mana Nil?" mas Anil menunjuk "itu sebelah kanan, nanti kita pulang lewat situ saja Yonk biar lebih cepat" informasi saja jalur ayak-ayak kini menjadi jalur evakuasi dan terlarang bagi pendaki melalui jalur ini, saya sependapat dengan mas Anil pulang nanti akan melalui jalur ini sebab jalur resmi yang telah kami lalui berputar terlalu jauh, berjalan perlahan lalu kami tiba di shelter jam 14.37

• Teman yang hilang
Di shelter ini ada beberapa penjual makanan dan minuman, saya duduk menunggu Hendri dan Sari datang, namun saya segera menyisiri danau mencari Asep sesekali saya berteriak tetap tak ada jawab, kembali ke shelter ternyata setengah jam kemudian Hendri dan Sari sudah datang, saya membeli 4 nasi bungkus isi telur goreng dan mie seharga Rp.15.000/bungkus lumayan murah mengingat jarak menuju Ranu Kumbolo sangat jauh, selesai makan mas Anil dan Hendri mendirikan tenda lalu saya ikut membantu dan tak lama tenda berdiri, saya bertanya kepada Hendri "lu gak lihat ada Asep tadi?" dia menjawab "gak ada, tau kemanain sotoy banget tuh bocah jalan duluan" lalu saya berseru "yawda lu coba cari dah keliling barang kali dia ada di sekitaran sini" Hendri berdiri dan mencari berkeliling danau hampir 1 jam dia tak kembali, sebenarnya kakinya sedikit bermasalah tapi dia tetap mencari meski tanpa hasil, dia kembali ke tenda wajahnya tampak lelah juga kesal kemudian mengumpat "sok tau sih pake jalan duluan, bikin susah orang aja mati kali tu orang" "hahahaa.." saya dan mas Anil tertawa "ya sudah kalau nda balik besok pagi biar gua susul ke kalimati" mas Anil menenangkan, saya menimpali "udah ngopi aja dulu, anak laki masa cuma semalam bisa mati, kecuali fisiknya lemah bisa aja dia mati cuy, asep kan keker kayak agung hercules" mas Anil memotong "ya nda apa-apa mati asal mayatnya jangan ketemu, kalau ketemu kita yang repot" "huahahahaaa.." kami tertawa bersamaan, ini keuntungan jika tiap pribadi dalam tim berisi orang-orang yang tenang, "seseorang yang emosional selalu menambah kacau persoalan yang datang dan makin tak sadarkan diri". saya lihat Sari yang diam saja berselimut kabut dingin membuatnya menggigil, tak salah ini jam 5 sore,

muncul ide saya "Sar, keluarin sayur-sayuran siapin ntar gue yang masak" setidaknya ini bisa mengurangi dingin, ada yang dikerjakan daripada hanya merasakan kedinginan walau tak beranjak dari tenda "pisaunya mana bang?" Sari bertanya dari dalam tenda, saya segera meminjam pisau pada tetangga walau tak mesti semua disiangi saya minta semua disiangi agar besok tak sulit, timbul masalah kecil meskipun memiliki 2 kompor spirtus namun bahan bakar semua dibawa Asep, tak lebih hanya 1 botol kecil yang kami bawa, kami berunding agar Sari meminjam kompor di tenda yang katanya berpenghuni para wanita, alot kami berunding rupanya Sari sangat canggung sehingga tak dapat meminjam kompor bagi kami, sampai saya membujuk paksa dan berkata "Sar kalo lu gak pinjem kita mau makan apa? Bisa-bisa mati kelaparan masa lu tega!" Sari bergeming dia tetap tidak dapat meminjamnya karena merasa malu atau canggung, sebenarnya maksud kami baik agar Sari bisa bersosialisasi dengan cepat terhadap orang yang baru dikenalnya tapi sudahlah karena hanya 20 detik saja Hendri kembali membawa kompor hasil pinjaman sehingga saya bisa kembali memasak. Kemampuan bersosialisasi dengan baik dan cepat sangat diperlukan apabila terjadi hal diluar dugaan karena seorang pendaki bisa dengan cepat meminta bantuan kepada pendaki lain, atau sekadar saling berkenalan bertukar informasi yang pada akhirnya hasil yang baik akan didapatkan. Saya memasak sop, ikan asin dan tempe namun karena masih kenyang makanan kami tinggalkan, jadi yang merasa lapar bisa langsung makan tanpa repot memasak. Waktu sudah pukul 7 malam kami istirahat melepas lelah, saya berdoa agar Asep selamat tak terjadi apa-apa, hidung mas Anil rupanya tersumbat namun saya tak membeli obat untuk itu, saya menyesal tak melengkapi saja semua jenis obat-obatan sekalipun tak akan digunakan namun antisipasi menghadapi kondisi apapun mutlak diperlukan, rupanya ia tetap bisa tidur dengan kondisi tersebut, saya merasa lapar lagi kemudian makan sendirian karena yang lain tidur, barulah saya menyusul tidur rasanya nyaman bahkan saya sempat bermimpi indah, tidak pernah saya bermimpi jika tidur di gunung apalagi mimpi yang indah maka lengkap sudah keindahan yang saya dapatkan.
 |
| pagi di Ranu Kumbolo |
Ternyata sudah pagi, Hendri memanaskan makanan kemudian bersama Sari keluar tenda untuk mengabadikan munculnya mentari diantara bukit di seberang Ranu Kumbolo, saya malas bangun melanjutkan tidur dan terganggu dengan suara seseorang yang membangunkan saya, ternyata itu Asep yang sudah kembali, saya hanya bertanya "dari mana aja lu? udah makan belum? Tuh makanan lu makan aja dulu, trus lu packing balik lagi kesini" entah dia makan atau tidak, saya khawatir dia sangat lapar, rupanya ketika malam dan merasakan lapar ia tanpa canggung meminta bantuan pendaki lain, sehingga bisa mendapatkan makanan yang cukup, namun ia tak dapat menghindari dingin malam di Ranu Kumbolo, semua pakaian yang dikenakan, sleeping bag, dan tenda basah total diserang kabut, seperti sengaja disiram air. Asep yang malang namun diberkati karena mampu melewati kesulitan dengan baik, sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan Asep, saya lah yang bertanggung jawab penuh karena saya yang memiliki gagasan mengadakan perjalanan ini lalu membawa tim dari Jakarta sampai kesini, jika ada kesalahan terjadi harusnya saya punya tindakan antisipasi maka hal ini seharusnya tidak terjadi. Saya akhirnya keluar tenda yang menghadap ke danau "wow.. Cantik banget Ranu Kumbolo pagi-pagi begini, kabut perlahan tersapu mentari" mata saya memandang mengitari seluruh Ranu Kumbolo hilang rasa malas saya, segera saya keluarkan kamera hp seadanya tak berhenti jempol ini menekan tombol take picture, puas saya segera packing dan sarapan lalu Asep kembali dengan carriel penuh bawaannya, saya membantu Hendri melipat tenda dan packing pun selesai. "tetaplah dalam kelompokmu, sekalipun jauh seribu langkah, seekor ngengat tetaplah ngengat diantara jutaan kupu-kupu".
• Jangan takut
 |
| tanjakan cinta |
Kini tim telah lengkap, sudah jam 09.14 kami siap untuk kembali melanjutkan perjalanan, jalur pembuka yang akan kami lewati pertama kali ialah tanjakan cinta, jika bermain imajinasi bentuk kedua bukit itu memang mirip dengan bentuk gambar hati, “katanya” jika memikirkan orang yang kita cintai dan selama berjalan tidak menoleh ke belakang maka akan mudah hubungan tersebut berjalan, ya itu "katanya" tapi tak ada salahnya mencoba asal minta sama Tuhan tentu tak berdosa, saya berjalan terakhir bermaksud mengganggu dengan memanggil Hendri agar menoleh ke belakang dan sia-sia karena ia tak mau melihat ke belakang, anehnya justru saya dan mas Anil yang sampai duluan diatas "ketauan siapa yang ngarep", kemudian kami berdua beristirahat mengambil gambar dan melanjutkan perjalanan, dari celah kedua bukit saya memandang ke depan bagai lokasi yang asing karena dihadapan saya terbentang area Oro-oro Ombo yang sangat indah luar biasa,
 |
| Oro-oro Om |
dimana rumput hijau terhampar bagai karpet beludru, pohonnya tegak menjulang kekar, ilalang berbaris rapi tinggi sejajar, bunga-bunga verbena berwarna ungu luas membentang indah temani langkah kaki, langitnya biru terang, awan putih bersih menenangkan, cahaya matahari bersinar tak silaukan mata, udara sejuk menyegarkan tubuh yang berpeluh, seperti ada yang mengurusi taman besar ini namun semua alami tak tersentuh. "Gunung bagai dunia, maka ketika di gunung buatlah suara indah, karena suaramu akan bergaung pada gunung lalu gaungnya kembali untukmu"
Mas Anil tak menghentikan langkahnya ia terus berjalan semakin jauh sementara dibelakang tak sedikitpun saya temukan tanda-tanda jika yang lain akan tiba, langkah saya percepat mengejar mas Anil, jemari memburu gambar melalui kamera, kami turun di hamparan bunga verbena berwarna ungu yang saya sangka bunga lavender dari kejauhan. Saya tak merasa lelah sedikitpun malah langkah menjadi ringan karena bahagia sekali bisa berada di tempat secantik ini.
 |
| area gerbang Cemoro Kandang |
Jam di handphone menunjukan pukul 09.47 saya sampai di cemoro kandang mas Anil datang lebih awal sedang beristirahat, lagi lagi saya temukan pedagang makanan disini maka tak perlu khawatir repot masak, di musim liburan ini banyak pedagang " entah jika hari biasa kebetulan saat itu musim libur" dari cemoro kandang saya fokus melihat ke arah tanjakan cinta yang telah saya lalui sebelumnya, tak salah lagi itu Hendri dan Sari mungkin Asep berada di taman bunga verbena jadi tak terlihat, kira-kira jam 10 Hendri dan Sari datang tak lama saya dan mas Anil lanjut diikuti Asep, tinggalkan Hendri dan Sari yang masih beristirahat. Jalur ini banyak sekali pohon cemara rasanya seperti kawasan diluar negeri, banyak juga rimbun ilalang tinggi sehingga menipu mata yang saya kira jalur ini landai ternyata perlahan terus menanjak, nafas saya tersengal-sengal mas Anil jauh di depan mungkin ia tak ingin kejadian hilangnya Asep terulang, paru-paru saya berlomba dengan detak jantung sepertinya saya sudah berada di ketinggian tertentu dimana kemungkinan gejala hipoksia terjadi yaitu sulit bernafas karena tubuh belum menyesuaikan diri di dalam sebuah ketinggian tertentu, belum lagi bawaan yang berat makin cepat menguras tenaga, akhirnya saya menemukan mas Anil sedang istirahat menikmati air Ranu Kumbolo yang ia bawa, saya memutar mp3 untuk mengusir lelah, 4 lagu sudah diputar mulai dari since i've been loving you -led Zeppelin, clock -Coldplay, song of zephyr -RHCP dan take cover milik -Mr. Big. Segera setelah itu saya tinggalkan mas Anil, sebentar saja saya sudah sampai di pos Jambangan jam 12.31, di pos sejauh ini puji sukur masih ada penjual makanan lalu saya membeli 2 bungkus nasi untuk saya dan mas Anil, harganya sama Rp.15000 lauk saja yang berkurang, tanpa telur hanya berisi mie dan gorengan.
 |
| Pos Jambangan |
Selesai santap siang Asep datang, ketika saya baru mulai berjalan lagi dan di jalur ini saya bisa berlari kecil untuk mempersingkat waktu. tiba di Kalimati jam 12.58, kesimpulannya dari Ranu Kumbolo ke Kalimati membutuhkan waktu 4 jam berjalan santai karena banyak sekali waktu saya habiskan untuk istirahat di tengah perjalanan, di Kalimati Asep menjemur sleeping bag, jaket, tenda yang basah kuyup ketika di Ranu Kumbolo. Asep berkata "Yonk gue mpe sini aja dah, gak ikut muncak nyerah gua, alat gua aja basah semua mana disini dingin banget" saya menjawab "ya gak apa, gimana baiknya aja buat lu, oke" karena saya tak ingin memaksakan seseorang untuk ke puncak mengingat resiko yang akan dihadapi adalah kematian bagi pendaki yang nekat tapi kurang persiapan diri atau mental sudah drop.
 |
| Sumber Mani |
Saya dan mas Anil mengumpulkan botol untuk diisi di mata air sumber mani, letaknya tidak jauh dari Kalimati sekitar 40 menit pulang pergi, yang membuat lama yaitu antrian panjang untuk bergantian mengambil air tersebut, di jalan menuju sumber mani saya bertemu Hendri dan Sari, saya menghampiri untuk meminta botol mereka sambil bertanya kepada Hendri "kok lama bro, ada apa?" ia menjawab "si Sari kambuh sesak napas" ya begitulah Hendri sekalipun mulutnya asal jika bicara, cenderung suka mengejek dan berteriak kegirangan tidak jelas namun jauh dari itu ia memiliki sifat yang sangat baik, dimana ia tak akan pernah meninggalkan teman yang sedang kesulitan, tak jarang saya temui orang yang baik bicaranya namun hilang ketika seorang teman membutuhkan bantuan, Hendri tidak seperti itu, ia mensupport Sari sepanjang jalan sampai selamat di tujuan. "nilai manusia berada dalam hatinya, lalu kenapa kamu memilih cangkir emas sedangkan air yang kamu butuhkan? ketika kamu menyangka buruk dari yang terlihat buruk, celakalah karena Tuhan maha tahu". Saya senang akhirnya mereka tiba baik-baik saja.
"jangan takut dalam sulit, sekalipun sendiri diantara ramai orang, karena Tuhan bekerja dengan misterius, melalui bantuan yang tidak kamu duga dan menghibur hati yang berduka"
• Selamat malam Kalimati
Sumber mani tidak terlalu padat artinya saya bisa lebih cepat mengambil air tanpa lama mengantri, hanya 2 orang di depan saya, air kami kumpulkan lalu kembali ke shelter Kalimati rupanya Hendri menyusul dan memberi tahu kalau dia mendapatkan beberapa botol air dari pendaki lain yang berbaik hati berbagi. Saya meminta kepada Hendri untuk mendirikan tenda dekat shelter karena 1 tenda tak memiliki cover saya sarankan agar tenda tersebut diletakan didalam shelter, Hendri berlari mendahului kami, sampai di shelter saya lihat dia menyapu sebuah ruangan untuk tenda tanpa cover lalu tenda dipindahkan ke dalam, tenda yang lain kami dirikan di luar dekat shelter.
 |
| paling kanan shelter Kalimati |
Asep sedang meminjam kompor gas agar ada 3 kompor sekaligus yang bisa digunakan, rupanya kompor gas pinjaman sedikit rusak, sehingga Asep perlu memperbaiki dan kembali dapat digunakan, Asep memasak air panas dan saya menyiapkan bahan konsumsi untuk saya masak, mas Anil tidak keluar tenda ia tidur memanfaatkan waktu agar bisa bangun jam 11 malam untuk melakukan pendakian ke puncak, selesai memasak semua makan malam kecuali saya dan mas Anil, saya masih kenyang namun menyempatkan bergabung untuk mengobrol, disitu saya mengingatkan bahwa besok setelah ke puncak kami harus kembali turun langsung ke Ranupani tak bermalam lagi karena mas Anil harus bekerja esok lusa, saya masuk ke dalam tenda dan mengobrol dengan Sari "Sar, ikut gak sampai puncak? Nanti jam 11 kita berangkat lho" Sari menjawab "kalo Sari disini sama siapa?" langsung saya jawab "sama Asep dia gak ikut" tak lama kembali dia berkata "udah tanggung bang sampai sini, belum tentu nanti bisa kesini lagi" bermaksud mengingatkan saya bertanya "yakin? Gua khawatir lu kambuh lagi, soalnya batas waktu di puncak sampai jam 10 siang harus kembali, bahaya gas beracun, trus malam ini bakalan dingin banget perjalanan, klo mau ikut kita berangkat jam 10 aja biar lebih cepet nyampe" ia menjawab "iya bang Sari ikut" satu pertanyaan dari saya "klo tau-tau lu gak bisa lanjut gimana?" dia jawab "nanti Sari turun sendiri bang" dalam hati saya berkata dalam diam juga berpikir, "andaikata dia balik sendiri, justru disinilah kebanyakan pendaki menjadi korban, balik sendiri tanpa teman tersesat atau kedinginan, ada baiknya Asep ikut apabila terjadi hal kurang baik ia dapat menemani kebawah" begitulah langkah antisipasi yang ada dibenak saya, karena saya juga tak bisa menolak keinginan orang lain, melihat perjuangan yang telah diusahakan. dengan pertimbangan keatas tanpa barang bawaan harusnya bisa lebih ringan beban tiap orang, "yawda lu tidur Sar, ntar bangun jam 10" menutup perbincangan. Hendri dan Asep tidur di tenda dalam shelter, dan karena dingin saya kembali ke luar tenda memasak air membuat kopi, lalu Hendri bangun karena saya ganggu, cukup lama kami mengobrol dan ia mempunyai saran yang ia utarakan kepada saya "Yonk, kita gak usah muncak yak, soalnya waktunya mepet banget, belum tentu kita bisa sampai bawah jam 4 sore, kalau truk udah habis atau penumpangnya kurang dari 15 orang berati kita nginep lagi, Anil besoknya kerja, Sari juga sesak napas lagi kambuh-kambuhan, si Asep jaketnya kurang aman, lu kan tau diatas dinginnya kayak apa, gak yakin gua Yonk" kembali saya diam rupanya perkataan saya sebelumnya berhasil membuat Hendri benar-benar memperhitungkan segalanya, saya berbicara "ummm.. Saran lu bagus, bisa dipertimbangkan, bisa jadi kita gak perlu naik" ia berkata "iye Yonk sampe sini aja udah cakep bro, dah dapet semuanya tinggal muncak doang bisa kapan-kapan, menang itu kan gak berati mpe puncak Yonk" kalimat terakhir itu seperti membalikan ucapan saya sendiri, sudah matang materi argumentasinya hahahaa.. (ini seperti bermain catur berkelompok, kami vs alam dimana saya siap menghantam bidak perdana mentri namun Hendri mengingatkan jika saya makan PM milik alam sekarang maka semakin panjang cerita sedangkan alam dengan mudah bisa membalikan keadaan dengan banyak variasi serangan, justru posisi pertahanan kami kacau balau, ada baiknya mundur, karena waktu tidak banyak, kami bisa kembali kesini lagi dengan persiapan lebih baik, dengan cara damai berdiri di puncak mahameru. Saya tahu itu dan memang pilihan terbaik yang saya mau, namun saya ingin orang yang memikirkannya dan melakukannya dengan berbicara menyampaikan pendapatnya). Lalu saya berkata "ide bagus, yang gua takutin juga sama, oke kalau begitu kita sampai sini saja, nanti gua ngomong sama mas Anil" Hendri menjawab "yawda kita lanjut ngopi, soalnya gua gak bisa tidur niy, ntar malah gua yang ngedrop klo dilanjut, carriel gua kan carriel penyiksaan coy" saya tertawa "hahaha.. Gak taunya lu juga mikirin diri sendiri, bagus bagus ketimbang makin koplak dengkul" Hendri mengadu "iya ni kaki gua yang sakit kemaren masih nyilu" dan kami melanjutkan minum kopi. Saya teringat kompor yang kami pinjam ada baiknya dikembalikan sekarang, agar tak perlu menunggu pemiliknya kembali dari puncak. Kami berdua mencari-cari tenda si pemilik kompor karena sudah gelap Hendri sedikit lupa dimana letak tendanya, beberapa kali kami salah tenda saya tak keberatan utamanya jika ada gadis-gadis cantik dalam tim tersebut lumayan cuci mata "gue juga normal keles" keindahan ciptaanNya adalah anugerah yang harus disyukuri, setelah menemukan tenda yang kami cari, kompor berhasil kami kembalikan dengan beribu ucapan terima kasih bagi orang yang baik hati telah meminjamkan kompor itu, setelah itu saya kembali masuk ke tenda untuk beristirahat. Mas Anil terbangun dan segera meminta kami bersiap "ayo Yonk mau berangkat jam berapa? Nanti malah kesiangan, sudah jam 11 berangkat yo" saya memulai menjelaskan keputusan kami dengan singkat "gak usah Nil, gua lihat lebih baik klo gak muncak, soalnya waktu kita gak cukup dan lusa kan pean dah mulai kerja, ode (Hendri) juga sudah senang bisa sampai sini, dan pasti kesini lagi nanti, jadi mending kita lanjut tidur" mas Anil berkata "ga apa-apa Yonk? Sudah tanggung ini!" saya jawab "gak apa Nil, sampai sini saja sudah bagus masih sehat semua hahaa.." "berarti tidur lagi saya?" mas Anil memotong, saya menyahut "yoi ayo kita tidur" Malam ini terasa lebih dingin saya sadar kondisi fisik mulai menurun, bukan karena cuaca yang lebih rendah, setelah saya matikan lampu senter semua menjadi gelap, selamat malam Kalimati. "masuki kegelapan, keluar menuju terang, tentu berbeda orang yang mengetahui dengan yang tidak"
-Nyambung lagi di tulisan berikutnya yak-
Makasih ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar